Dalam pekerjaan perkantoran, informasi tidak selalu disampaikan melalui dokumen resmi atau rapat. Banyak pekerjaan justru dimulai dari sebuah percakapan singkat, panggilan telepon, email, atau pesan melalui aplikasi komunikasi. Meskipun terlihat sederhana, setiap bentuk komunikasi tersebut membawa informasi yang dapat memengaruhi pekerjaan orang lain.
Seorang staf administrasi, misalnya, dapat menerima telepon dari pelanggan yang menanyakan jadwal pertemuan, memperoleh instruksi dari atasan melalui pesan, atau menerima email yang berisi dokumen penting dari pihak eksternal. Kesalahan kecil dalam menyampaikan atau mencatat informasi dapat menyebabkan jadwal berubah, dokumen terlewat, atau pekerjaan dilakukan tidak sesuai permintaan.
Karena itu, komunikasi dalam lingkungan kerja tidak cukup hanya dilakukan dengan sopan. Komunikasi perlu dilakukan secara jelas, tepat, profesional, dan sesuai dengan media yang digunakan.
Bagi tenaga Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB), kemampuan berkomunikasi secara profesional merupakan bagian penting dari kompetensi kerja. Seorang tenaga administrasi sering menjadi salah satu pihak pertama yang berhubungan dengan tamu, pelanggan, mitra, maupun pegawai dari bagian lain. Cara berkomunikasi yang ditunjukkan dapat memengaruhi kelancaran pekerjaan sekaligus citra organisasi.
Komunikasi Profesional di Lingkungan Kantor
Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari satu pihak kepada pihak lainnya agar pesan dapat dipahami dan menghasilkan respons atau tindakan tertentu. Dalam lingkungan kerja, komunikasi dapat dilakukan secara langsung maupun menggunakan media.
Komunikasi langsung terjadi ketika pihak yang berkomunikasi berada dalam interaksi tatap muka. Sementara itu, komunikasi tidak langsung menggunakan media seperti telepon, email, aplikasi pesan, atau sistem komunikasi lainnya.
Perbedaan media tersebut membuat cara penyampaian pesan juga perlu disesuaikan. Bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan rekan kerja secara langsung tidak selalu dapat digunakan begitu saja dalam email resmi kepada pelanggan atau mitra perusahaan.
Meskipun demikian, terdapat prinsip dasar yang berlaku pada hampir semua bentuk komunikasi profesional, yaitu jelas, sopan, relevan, akurat, dan bertanggung jawab.
Informasi yang disampaikan harus mudah dipahami dan tidak menimbulkan penafsiran yang tidak diperlukan. Sopan santun diperlukan untuk menunjukkan penghargaan kepada lawan bicara. Informasi yang diberikan harus sesuai dengan fakta, sedangkan tanggung jawab berarti memahami bahwa pesan yang dikirim atau disampaikan dapat menjadi bagian dari proses pekerjaan.
Etika Berbicara Secara Langsung
Komunikasi tatap muka masih menjadi bagian penting dalam kegiatan kantor. Rapat, koordinasi, menerima tamu, meminta informasi, memberikan instruksi, hingga berdiskusi dengan rekan kerja merupakan contoh komunikasi langsung yang sering terjadi.
Dalam komunikasi langsung, isi pesan memang penting, tetapi cara menyampaikan pesan juga menentukan bagaimana pesan tersebut diterima.
Ketika berbicara dengan orang lain di lingkungan kerja, gunakan bahasa yang sesuai dengan hubungan dan situasi. Kepada atasan atau pihak eksternal, gunakan bahasa yang lebih formal. Dengan rekan kerja, komunikasi dapat berlangsung lebih fleksibel selama tetap sopan dan profesional.
Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu menjaga komunikasi tetap profesional.
Pertama, awali percakapan dengan sapaan yang sesuai. Sapaan menunjukkan bahwa kita menyadari kehadiran dan menghargai lawan bicara.
Kedua, dengarkan sebelum memberikan tanggapan. Jangan langsung memotong pembicaraan hanya karena merasa sudah mengetahui maksud lawan bicara. Dalam pekerjaan administrasi, informasi yang tampak kecil dapat menjadi bagian penting dari suatu pekerjaan.
Ketiga, gunakan bahasa yang jelas dan tidak berbelit-belit. Jika seseorang meminta informasi mengenai jadwal rapat, berikan informasi yang diperlukan secara langsung, misalnya waktu, tempat, peserta, dan hal lain yang relevan.
Keempat, pastikan kembali informasi yang penting. Apabila menerima instruksi yang berkaitan dengan jadwal, jumlah, nama, alamat, atau dokumen, lakukan konfirmasi apabila terdapat bagian yang belum jelas.
Kelima, jaga sikap dan bahasa tubuh. Kontak mata yang wajar, posisi tubuh yang sopan, serta perhatian kepada lawan bicara merupakan bagian dari komunikasi profesional.
Komunikasi yang baik bukan berarti selalu berbicara dengan bahasa yang rumit. Justru, komunikasi profesional seharusnya membuat informasi lebih mudah dipahami dan lebih mudah ditindaklanjuti.
Contoh Situasi
Seorang pimpinan berkata:
“Tolong siapkan dokumen rapat untuk besok.”
Instruksi tersebut belum tentu cukup jelas. Seorang staf dapat memastikan kembali:
“Baik, Pak. Untuk memastikan, dokumen yang perlu saya siapkan adalah agenda rapat, daftar peserta, dan bahan presentasi untuk rapat pukul 09.00 besok, benar?”
Konfirmasi tersebut bukan tanda bahwa staf tidak memahami pekerjaan. Sebaliknya, tindakan tersebut menunjukkan kehati-hatian untuk mencegah kesalahan.
Menerima Telepon Kantor dengan Profesional
Telepon merupakan salah satu sarana komunikasi yang masih banyak digunakan dalam lingkungan kerja. Bagi staf administrasi atau resepsionis, menerima telepon bahkan dapat menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Berbeda dengan komunikasi tatap muka, penerima telepon tidak dapat melihat ekspresi wajah atau bahasa tubuh lawan bicara. Karena itu, suara, pilihan kata, kejelasan berbicara, dan kemampuan mendengarkan menjadi sangat penting.
Etika dalam menerima telepon kantor sering disebut sebagai telephone courtesy, yaitu tata cara dan kesopanan dalam menangani komunikasi melalui telepon secara profesional.
Tujuan utamanya bukan sekadar membuat percakapan terdengar sopan, tetapi memastikan penelepon memperoleh informasi dan pelayanan yang tepat.
Sebelum Mengangkat Telepon
Ketika bertugas menerima telepon, usahakan berada dalam kondisi siap. Dokumen atau alat pencatat sebaiknya tersedia sehingga informasi penting dapat langsung dicatat.
Jangan membuat penelepon menunggu terlalu lama tanpa alasan. Ketika telepon diangkat, gunakan suara yang jelas dan terdengar ramah.
Contoh pembukaan:
“Selamat pagi, PT Nusantara Jaya, dengan Rani. Ada yang dapat kami bantu?”
Kalimat tersebut memberikan tiga informasi sekaligus: sapaan, identitas organisasi, dan identitas penerima telepon.
Namun, format pembukaan dapat disesuaikan dengan standar perusahaan. Jika perusahaan telah memiliki script atau prosedur penerimaan telepon, gunakan prosedur tersebut secara konsisten.
Mendengarkan dan Mengidentifikasi Penelepon
Setelah membuka percakapan, dengarkan maksud penelepon dengan baik.
Beberapa informasi yang mungkin perlu dicatat antara lain:
nama penelepon;
nama perusahaan atau instansi;
nomor telepon yang dapat dihubungi kembali;
pihak yang ingin dihubungi;
tujuan telepon;
pesan yang ingin disampaikan;
waktu atau batas waktu tertentu yang berkaitan dengan pesan.
Tidak semua percakapan membutuhkan seluruh informasi tersebut. Catat informasi sesuai kebutuhan.
Jika suara penelepon kurang jelas, jangan menebak. Mintalah penelepon mengulangi informasi.
Misalnya:
“Mohon maaf, untuk nama perusahaan tadi apakah dapat diulangi?”
Lebih baik meminta konfirmasi daripada mencatat informasi yang salah.
Ketika Pihak yang Dituju Tidak Ada
Salah satu situasi yang sering terjadi adalah penelepon ingin berbicara dengan pegawai tertentu, tetapi pegawai tersebut sedang tidak berada di tempat.
Hindari memberikan jawaban yang terlalu singkat seperti:
“Orangnya nggak ada.”
Jawaban tersebut mungkin benar, tetapi tidak menunjukkan pelayanan profesional.
Gunakan jawaban yang memberikan informasi sekaligus menawarkan bantuan.
Contohnya:
“Mohon maaf, Ibu Rina sedang tidak berada di tempat. Apakah Bapak/Ibu ingin meninggalkan pesan?”
Jika penelepon meninggalkan pesan, pastikan pesan tersebut dicatat dengan benar dan diteruskan kepada pihak yang dituju.
Menutup Percakapan Telepon
Sebelum mengakhiri telepon, pastikan kebutuhan penelepon telah ditangani.
Jika terdapat pesan, lakukan konfirmasi singkat:
“Baik, Bapak. Pesannya akan saya sampaikan kepada Ibu Rina. Untuk memastikan, nomor yang dapat dihubungi kembali adalah 0812-xxxx-xxxx, benar?”
Setelah itu, tutup percakapan dengan ucapan yang sesuai.
“Baik, terima kasih atas informasinya. Selamat siang.”
Penutupan yang baik membuat percakapan berakhir dengan jelas dan profesional.
Mencatat Pesan melalui Telephone Memo
Menerima telepon tidak selalu berarti masalah selesai ketika percakapan berakhir. Jika pihak yang dituju tidak dapat menerima telepon secara langsung, staf administrasi perlu memastikan pesan dapat diteruskan dengan benar.
Salah satu caranya adalah menggunakan telephone memo atau memo telepon.
Isi memo dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, tetapi secara umum dapat mencakup:
Tanggal dan waktu
Kapan telepon diterima.
Nama penelepon
Identitas orang yang menghubungi.
Perusahaan atau instansi
Jika penelepon mewakili organisasi tertentu.
Nomor kontak
Nomor yang dapat digunakan untuk menghubungi kembali.
Ditujukan kepada
Nama atau bagian yang ingin dihubungi.
Pesan
Informasi atau permintaan yang disampaikan.
Tindak lanjut
Jika terdapat tindakan tertentu yang perlu dilakukan.
Contoh:
TELEPHONE MEMO
Tanggal: 14 September 2026
Waktu: 10.15
Dari: Andi Pratama — PT Maju Bersama
Nomor: 0812-xxxx-xxxx
Untuk: Ibu Sinta — Bagian Procurement
Pesan: Meminta konfirmasi mengenai jadwal pengiriman dokumen penawaran.
Tindak lanjut: Mohon dihubungi kembali.
Memo seperti ini membantu mengurangi risiko informasi hilang atau terlupakan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah mencatat pesan berdasarkan informasi yang disampaikan, bukan menambahkan kesimpulan pribadi. Jika terdapat informasi yang tidak jelas, lakukan konfirmasi kepada penelepon.
Email sebagai Sarana Komunikasi Resmi
Email menjadi salah satu media utama dalam komunikasi bisnis dan administrasi. Email memungkinkan informasi dikirim secara cepat sekaligus menyediakan rekam komunikasi yang dapat disimpan dan ditelusuri kembali.
Karena itu, email kantor sebaiknya diperlakukan sebagai komunikasi profesional, bukan seperti percakapan pribadi.
Sebuah email yang baik perlu memperhatikan beberapa bagian, antara lain:
Menulis Subject yang Informatif
Subjek membantu penerima mengetahui isi email sebelum membuka pesan.
Hindari subjek seperti:
“Penting!!!”
atau
“Dokumen”
Subjek tersebut terlalu umum.
Lebih baik gunakan:
Permintaan Data Penjualan — Agustus 2026
atau:
Undangan Rapat Koordinasi — 18 September 2026
Dengan demikian, penerima dapat segera memahami konteks email.
Menulis Isi Email Secara Profesional
Isi email sebaiknya langsung menuju tujuan komunikasi. Tidak perlu terlalu panjang apabila informasi yang disampaikan sederhana, tetapi jangan menghilangkan informasi penting.
Struktur sederhana yang dapat digunakan adalah:
Salam pembuka → tujuan → informasi utama → tindakan yang diharapkan → penutup.
Contohnya:
Yth. Ibu Rina,
Sehubungan dengan persiapan rapat evaluasi bulanan, kami memohon data penjualan periode Agustus 2026 untuk digunakan sebagai bahan rapat.
Mohon data tersebut dapat dikirimkan paling lambat 16 September 2026.
Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Bahasa email harus disesuaikan dengan penerima. Email kepada pelanggan, pimpinan, atau mitra bisnis tentu membutuhkan tingkat formalitas yang berbeda dengan komunikasi internal antarrekan kerja.
Memeriksa Email Sebelum Dikirim
Kesalahan email sering terjadi bukan karena seseorang tidak mampu menulis, tetapi karena pesan dikirim terlalu cepat.
Sebelum menekan tombol Send, lakukan pemeriksaan singkat.
Periksa penerima.
Pastikan email dikirim kepada orang yang tepat.
Periksa subject.
Pastikan subjek menggambarkan isi email.
Periksa isi pesan.
Pastikan informasi, nama, tanggal, angka, dan instruksi sudah benar.
Periksa lampiran.
Jika email menyebutkan adanya lampiran, pastikan file benar-benar terlampir dan merupakan file yang tepat.
Periksa penerima CC dan BCC.
Pastikan hanya pihak yang memang perlu menerima salinan yang dimasukkan.
Periksa bahasa.
Hindari singkatan atau gaya bahasa yang terlalu informal untuk komunikasi resmi.
Kebiasaan memeriksa email sebelum dikirim merupakan bentuk sederhana dari profesionalisme.
WhatsApp Business untuk Komunikasi Resmi
Aplikasi pesan instan seperti WhatsApp juga dapat digunakan dalam kegiatan bisnis dan administrasi. Beberapa organisasi menggunakan WhatsApp Business untuk berkomunikasi dengan pelanggan, memberikan informasi, menerima pertanyaan, atau menangani kebutuhan layanan.
Meskipun bentuknya pesan singkat, komunikasi melalui WhatsApp Business tetap perlu mengikuti prinsip profesional.
Perbedaan utama dengan komunikasi pribadi bukan hanya terletak pada aplikasinya, tetapi pada konteks, tujuan, dan identitas akun yang digunakan.
Ketika menggunakan akun resmi perusahaan, pesan yang dikirim mewakili organisasi. Karena itu, penggunaan bahasa, waktu pengiriman, informasi yang diberikan, dan cara merespons perlu diperhatikan.
Aturan Dasar Komunikasi WhatsApp Resmi
Gunakan salam dan sapaan yang sesuai.
“Selamat pagi, Bapak Andi. Kami dari PT Nusantara Jaya ingin menginformasikan bahwa...”
Hindari membuka percakapan bisnis dengan:
“P”
“Halo?”
“Ada?”
Pesan seperti itu mungkin lazim dalam percakapan pribadi, tetapi tidak sesuai untuk komunikasi layanan yang profesional.
Sampaikan informasi secara singkat dan jelas. Jika informasi yang dibutuhkan cukup banyak, susun dalam beberapa bagian agar mudah dibaca.
Hindari mengirim terlalu banyak pesan terpisah seperti:
“Pak...”
“Mau info...”
“Soal rapat...”
“Besok jadi kan?”
Lebih baik susun menjadi satu pesan yang lengkap:
“Selamat sore, Pak Andi. Kami ingin mengonfirmasi jadwal rapat koordinasi yang direncanakan besok pukul 09.00. Apakah jadwal tersebut tetap dilaksanakan sesuai rencana?”
Gunakan emoji secara terbatas atau hindari jika konteks komunikasi membutuhkan formalitas tinggi. Jangan menggunakan bahasa, stiker, atau candaan yang dapat menimbulkan kesan tidak profesional.
Perhatikan Waktu dan Privasi
Komunikasi digital memberikan kemudahan untuk menghubungi orang kapan saja. Namun, kemudahan tersebut tidak berarti seseorang bebas mengirim pesan tanpa mempertimbangkan waktu dan kondisi penerima.
Untuk komunikasi bisnis, perhatikan jam operasional dan kebijakan organisasi. Pesan di luar jam kerja hanya dikirim apabila memang diperlukan dan sesuai dengan ketentuan perusahaan.
Selain itu, informasi yang dikirim melalui email maupun WhatsApp harus memperhatikan kerahasiaan dan keamanan. Jangan mengirim data pribadi, dokumen internal, atau informasi perusahaan kepada pihak yang tidak berwenang.
Jika sebuah dokumen bersifat rahasia, pastikan penerima memang memiliki hak untuk menerimanya dan gunakan prosedur pengiriman yang ditetapkan organisasi.
Memilih Media Komunikasi yang Tepat
Tidak semua informasi harus disampaikan melalui media yang sama.
Telepon lebih sesuai ketika informasi membutuhkan percakapan langsung atau respons cepat. Email lebih sesuai untuk komunikasi resmi yang membutuhkan dokumentasi atau melibatkan lampiran. WhatsApp Business dapat digunakan untuk komunikasi layanan atau koordinasi yang membutuhkan respons praktis, selama penggunaannya sesuai dengan kebijakan organisasi.
Sebagai contoh:
| Situasi | Media yang dapat digunakan |
|---|
| Konfirmasi cepat mengenai jadwal | Telepon atau pesan resmi |
| Mengirim surat atau laporan | Email |
| Mengirim dokumen kepada pihak tertentu | Email atau sistem resmi perusahaan |
| Menjawab pertanyaan pelanggan | WhatsApp Business atau kanal layanan resmi |
| Instruksi yang membutuhkan dokumentasi | Email atau sistem komunikasi resmi |
| Keadaan yang membutuhkan respons segera | Telepon |
Pemilihan media harus mempertimbangkan urgensi, tingkat formalitas, kebutuhan dokumentasi, jumlah informasi, serta keamanan informasi.
Dengan kata lain, profesionalisme bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara atau menulis, tetapi juga tentang memilih cara komunikasi yang paling tepat untuk suatu situasi.
Praktik 1 — Simulasi Menerima Telepon Masuk
Tujuan
Siswa mampu menerima telepon kantor dengan bahasa yang sopan, mengidentifikasi kebutuhan penelepon, mencatat informasi penting, dan menyampaikan pesan kepada pihak yang dituju.
Skenario
Seorang pelanggan menelepon kantor untuk menanyakan status dokumen yang sebelumnya telah dikirimkan. Pegawai yang dituju sedang tidak berada di tempat.
Lakukan simulasi dengan pembagian peran:
Petugas harus membuka percakapan secara profesional, menanyakan identitas dan tujuan penelepon, mencatat informasi yang diperlukan, kemudian menutup percakapan dengan baik.
Produk Akhir
Telephone memo yang berisi informasi penelepon dan pesan yang harus disampaikan kepada pegawai terkait.
Praktik 2 — Membuat Telephone Memo
Berdasarkan hasil simulasi, buatlah memo telepon dengan format yang rapi.
Pastikan informasi berikut tersedia:
Setelah memo selesai dibuat, periksa kembali apakah informasi yang dicatat sesuai dengan percakapan.
Praktik 3 — Menyortir Email Masuk
Dalam pekerjaan administrasi, tidak semua email memiliki tingkat kepentingan yang sama. Seorang staf dapat menerima email dari pelanggan, pimpinan, rekan kerja, vendor, maupun pihak lain dalam jumlah banyak.
Karena itu, email perlu disortir berdasarkan kebutuhan dan tindakan yang harus dilakukan.
Skenario
Kamu menerima lima email berikut:
Undangan rapat dari pimpinan yang harus dihadiri besok.
Penawaran harga dari vendor.
Newsletter promosi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
Permintaan data dari bagian Finance dengan batas waktu hari ini.
Pertanyaan pelanggan mengenai status pesanannya.
Kelompokkan email tersebut berdasarkan tindakan yang diperlukan, misalnya:
Segera ditindaklanjuti
Informasi membutuhkan respons atau tindakan dalam waktu dekat.
Perlu diteruskan
Informasi harus disampaikan kepada pihak atau divisi yang berwenang.
Perlu diarsipkan
Informasi penting untuk disimpan tetapi tidak membutuhkan tindakan segera.
Tidak relevan
Pesan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan dan tidak memerlukan tindakan.
Dalam praktik sebenarnya, kategori tersebut dapat disesuaikan dengan sistem pengelolaan email yang digunakan perusahaan.
Produk Akhir
Siswa menghasilkan daftar penyortiran email yang menunjukkan:
Pengirim → Subjek → Kategori → Tindakan → Pihak yang Bertanggung Jawab → Prioritas
Mengapa Keterampilan Ini Penting bagi MPLB?
Pekerjaan administrasi sangat berkaitan dengan informasi. Informasi dapat diterima melalui percakapan, telepon, email, aplikasi pesan, maupun dokumen. Setelah menerima informasi, seorang tenaga administrasi mungkin perlu mencatat, meneruskan, menyimpan, atau menindaklanjutinya.
Kesalahan dalam satu tahap dapat memengaruhi pekerjaan berikutnya.
Salah mencatat nomor telepon dapat menyebabkan pihak yang bersangkutan tidak dapat dihubungi. Salah menulis tanggal dapat menyebabkan jadwal berubah. Email yang dikirim kepada penerima yang keliru dapat menimbulkan masalah kerahasiaan. Pesan WhatsApp yang terlalu informal dapat memberikan kesan yang kurang profesional terhadap organisasi.
Karena itu, keterampilan komunikasi harus dipandang sebagai bagian dari keterampilan kerja, bukan sekadar kemampuan berbicara.
Seorang tenaga administrasi yang baik mampu memahami pesan, menyampaikan informasi dengan tepat, memilih media yang sesuai, mencatat informasi penting, dan memastikan komunikasi menghasilkan tindakan yang diperlukan.
Rangkuman
Komunikasi merupakan bagian penting dalam kegiatan perkantoran karena menjadi sarana pertukaran informasi antara pimpinan, pegawai, pelanggan, mitra, dan berbagai pihak lainnya.
Komunikasi profesional harus dilakukan secara jelas, sopan, akurat, relevan, dan bertanggung jawab. Dalam komunikasi langsung, perhatian terhadap cara berbicara, kemampuan mendengarkan, bahasa tubuh, serta konfirmasi informasi menjadi hal penting.
Dalam menerima telepon, petugas perlu menggunakan telephone courtesy, mulai dari membuka percakapan, mengidentifikasi penelepon, memahami tujuan telepon, mencatat pesan, hingga menutup percakapan dengan baik.
Email digunakan sebagai salah satu sarana komunikasi resmi dan perlu disusun dengan memperhatikan penerima, subject, isi pesan, lampiran, serta pemeriksaan sebelum dikirim.
WhatsApp Business dapat digunakan sebagai media komunikasi resmi apabila sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan organisasi. Meskipun menggunakan aplikasi pesan instan, komunikasi tetap harus menggunakan bahasa yang profesional, jelas, dan memperhatikan waktu serta kerahasiaan informasi.
Pada akhirnya, komunikasi yang profesional bukan sekadar berbicara dengan sopan. Komunikasi profesional berarti menyampaikan informasi yang tepat, melalui media yang tepat, kepada pihak yang tepat, pada waktu yang tepat, sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan benar.